Pengertian Kepribadian Menurut Para Ahli

Pengertian Kepribadian Menurut Para Ahli

Pengertian Kepribadian Menurut Para Ahli – Kepribadian merupakan keseluruhan cara dari seorang individu bereaksi dan berinteraksi dengan individu yang lain. Kepribadian sering dideskripsikan dalam istilah sifat yang bisa diukur ditunjukkan oleh seseorang.

Disamping itu kepribadian juga sering diartikan sebagai ciri-ciri yang paling menonjol pada diri seorang individu, seperti kepada orang yang pemalu dan dikenakan atribut “berkepribadian pemalu”. Begitu juga kepada orang supel dan diberikan atribut “berkepribadian supel” serta kepada orang yang plin-plan, pengecut, atau semacamnya dan diberikan atribut “tidak punya kepribadian”.

14 Pengertian Kepribadian Menurut Para Ahli

Adapun berdasarkan pemikiran ahli yang memiliki pandangan yang berbeda, namun dalam tujuan yang sama dalam mengartikan kepribadian:

1 . Gordon Allport, menyatakan bahwa kepribadian itu sebagai suatu organisasi (berbagai aspek psikis dan fisik) yang merupakan suatu struktur yang sekaligus proses. Jadi, kepribadian itu merupakan sesuatu yang bisa berubah. Secara eksplisit Allport menyebutkan, bahwa kepribadian secara teratur tumbuh dan mengalami perubahan.

2 . Koentjaraningrat, Menurutnya Kepribadian merupakan beberapa ciri dari watak yang diperlihatkan oleh seseorang secara lahir, konsisten, dan konsukuen. Setiap manusia itu melakukan proses sosialisasi. Proses sosialisasi ini berlangsung selama manusia itu masih hidup didunia. Kepribadian seseorang individu bisa terbentuk dalam bertingkah laku, sehingga individu tersebut memiliki identitas khusus yang berbeda dengan orang lain.

3 . George Herbert Mead, Menurutnya kepribadian merupakan tingkah laku manusia dalam berkembang, melalui perkembangan diri. Perkembangan dari kepribadian dalam diri seseorang ini berlangsung seumur hidup. Menurutnya, manusia akan berkembang secara bertahap dengan situs agen sbobet interaksi dengan anggota masyarakat.

4 . Theodore M Newcombe, Menurutnya kepribadian merupakan organisasi sikap-sikap yang dimiliki oleh seseorang sebagai latar belakang terhadap prilaku.

5 . Roucek dan Warren, Menjelaskan kepribadian merupakan organisasi faktor-faktor sosiologis, psikologis, serta biologis yang didasari oleh prilaku individu.

6 . Yinger, Menurutnya kepribadian merupakan keseluruhan tingkah laku dari seseorang dengan suatu sistem kecenderungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian situasi.

7 . Robert Sutherland, Menurutnya kepribadian merupakan abstraksi individu dan kelakuannya yang sebagaimana halnya sama lingkungan masyarakat dan kebudayaan. Maka dari itu kepribadian digambarkan sebagai suatu hubungan saling memengaruhi antara tiga aspek tersebut.

8 . M.A.W. Brower, menurutnya kepribadian merupakan corak tingkah laku sosial dari seorang individu yaitu meliputi keinginan, opini, dorongan, dan kekuatan, serta prilaku-prilaku seseorang.

9 . Roucek dan Warren, Menjelaskan kepribadian ialah sebagai kelompok faktor-faktor psiologis, biologis, dan sosiologis yang didasari dari prilaku individu itu sendiri. Faktor-faktor biologis tersebut juga meliputi keadaan fisik, watak, seksual, sistem saraf, proses pendewasaan individu yang bersangkutan, serta juga kelainan-kelainan biologis lainnya.

10 . Horton, menurutnya kepribadian merupakan keseluruhan sikap, perasaan, ekspresi, dan temperamen seseorang. Sikap, perasaan, ekspresi, dan temperamen itu akan terwujud dalam tindakan dari seseorang jika dihadapkan pada situasi tertentu.

11 . Schaefer dan Lamm, mendefinisikan kepribadian sebagai keseluruhan pola sikap, kebutuhan, cirri-ciri khas, dan perilaku seseorang.

12 . Atkinson, menjelaskan bahwa kepribadian merupakan pola dari perilaku dan cara berpikir khas, yang menentukan penyesuaian diri individu terhadap lingkungan. Kepribadian juga mencakup kepribadian umum yang dapat diamati oleh orang lain serta kepribadian yang terdiri dari pikiran dan pengalaman yang jarang diungkapkan.

13 . Kimmel, mengatakan bahwa meskipun terdapat beberapa definisi kepribadian yang berbeda, namun hampir dari semua teori tersebut menekankan definisi kepribadian pada 3 (tiga) karakteristik utama, yaitu:

Kepribadian merefleksikan keunikan dari individu sebagai person
Teori- teori dari kepribadian memfokuskan pada sifat-sifat individu yang cukup stabil selama periode waktu yang lama dalam situasi yang berbeda -beda

Kepribadian itu dilihat sebagai hubungan antara individu dengan lingkungan fisik serta sosialnya, dalam pengertian bahwa kepribadian tersebut merefleksikan pola-pola atau cara-cara individu beradaptasi dengan lingkungan.

14 . Menurut Hjelle & Ziegler, perbedaan pendapat mengenai definisi kepribadian tersebut terjadi karena kepribadian yang dipahami, dan perbedaan antara teori kepribadian itu memperlihatkan mengenai perbedaan pandangan asumsi-asumsi dasar manusia.

Itulah sekilas pengertian dari Kepribadian, semoga artikel diatas bermanfaat dan sampai jumpa lagi.

Rumah Anda Membentuk Harga Diri Anak Anda

Pernahkah kita melihat, atau bahkan mengalami sendiri, saat berada diluar rumah atau saat kita berbicara kepada orang lain kita menjadi begitu sabar dan sopan. Tetapi sebaliknya begitu kita masuk ke pintu rumah sendiri dan berinteraksi dengan pasangan dan anak-anak, kita merasa masuk ke dalam daerah kekuasaan dimana bisa dengan bebas dan seenaknya melampiaskan emosi.

Situasi rumah yang seperti itu, menjadikan rumah seakan-akan sekedar tempat persinggahan saja seperti layaknya sebuah hotel, hanya untuk tidur pada malam hari. Mengapa bisa terjadi demikian ? Karena rumah bukan lagi tempat yang nyaman, tenang dan damai bagi anak-anak terutama bagi yang mulai beranjak remaja atau dewasa.

Rumah, sebenarnya tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal saja. Rumah, seharusnya juga simbol rasa aman. Ketika anak masuk ke dalam rumah, seharusnya dia mendapat kepastian akan memperoleh perasaan aman, dicintai dan dihargai. Bukan kepastian akan adanya pertengkaran, dan kekerasan baik fisik maupun verbal. Terlebih lagi kalau pertengkaran itu adalah pertengkaran orang tuanya, maka rasa aman dan kepercayaan mereka akan segera hilang. Seringkali komunikasi antara orang tua dengan anak remajanya akan segera terputus, karena mereka lebih memilih berada diluar rumah.

Ada kata pepatah yang mengatakan “guru kencing berdiri murid kencing berlari”. Hal ini sangat tepat karena apa yang dilakukan oleh orang tuanya akan ditiru anak-anaknya. Anak-anak belajar dari apa yang dilihat sehari-hari dalam keluarganya. Pertengkaran antar pasangan apalagi kalau sampai pada saling melontarkan kata-kata penghinaan secara terbuka di depan anak-anak, menjadikan sang anak merasa tak berdaya dan bersalah. Dengan pemikiran yang masih terbatas, si anak akan memaknai bahwa “hal ini terjadi karena salahku” atau “aku bertanggung jawab atas kejadian ini”. Pertengkaran diantara kedua orangtuanya membuat anak merasa dirinya “kecil” dan harga dirinya akan “rusak”. Tidak perlu heran kalau pergaulan sosialnya menjadi terhambat, karena si anak akan membatasi pergaulannya. Anak seperti ini tidak berani mengajak temannya bermain ke rumah karena takut temannya akan melihat pertengkaran orangtuanya yang tentunya sangat memalukan bagi si anak. Dalam tahap yang parah, bepergian satu keluarga pun akan membuat si anak merasa tidak nyaman dan malu, karena ada kekawatiran kalau sewaktu-waktu terjadi pertengkaran di depan umum.

Perasaan malu yang sudah tertanam dalam diri si anak mengakibatkan harga diri rendah yang nantinya akan menghalangi pendidikan anak dan pencapaian kesuksesan di masa depan si anak. Hal ini telah terbukti dari banyaknya kasus terapi klien dewasa dimana masalahnya sebagain besar berakar pada harga diri yang rendah, yang diawali oleh adanya pertengkaran orangtua klien.

Berikut adalah tips-tips untuk membangun rasa damai dan aman di rumah :

  • Apabila kita ingin melakukan koreksi kepada pasangan, landasi dengan rasa hormat dan fokus pada solusi. Katakan di ruang tertutup yang tidak terlihat atau terdengar oleh anak-anak. Pertengkaran terbuka apalagi disertai dengan pembunuhan karakter, melukai dan menakutkan anak-anak secara emosional.
  • Tidak penting siapa yang salah dan siapa yang benar, anak-anak tidak mengerti dan tidak memerlukan hal itu. Anak-anak hanya perlu orangtuanya hidup rukun dan damai.
  • Belajarlah mengontrol emosi. Semua bentuk emosi termasuk marah tidaklah buruk, namun yang berdampak negative adalah apabila tidak bisa mengontrol emosi, dan melampiaskannya kepada pasangan dan anak-anak.
  • Kalau ada perilaku anak yang tidak kita setujui, jangan membesarkan masalahnya melainkan fokuskan dan ajarkan anak untuk mencari penyelesaian (solusi) .
  • Berikan dukungan dengan mengungkapkan kalimat dukungan minimal satu kalimat setiap hari kepada semua anggota keluarga.

Contoh kalimat dukungan untuk anak : “Nak, papa/mama mengerti perasaanmu saat harus menghadapi ini semua, papa/mama ingin kamu tahu bahwa sebagai satu keluarga kita akan bersama-sama menghadapi dan mencari jalan keluarnya bersama-sama.”

Contoh kalimat dukungan untuk pasangan : “Tahukah kamu salah satu keputusan terbaik dalam hidupku adalah memutuskan untuk menikah denganmu ?”

  • Selalu usahakan melihat hal negatif dari sudut pandang positif dan besarkan yang positif tersebut. Dibalik hal negatif pasti ada hal positif yang bisa diambil sebagai pelajaran, sebagai contoh : Saat seorang anak menumpahkan makanannya, hal negatifnya jangan dibesarkan dengan memarahinya tetapi sebaliknya katakan : “Kamu kaget ya…? Ini proses supaya lain kali kamu lebih hati-hati, ayo sekarang kita bereskan sama-sama … mama/papa bantu ambil sapu dan lap dan kamu yang sapu dan lap ya.”

Situasi emosional yang aman di rumah akan membuat seorang anak :

  • Berani mengungkapkan pendapat, ide-idenya kepada orang lain dan dengan demikian mempunyai “kontrol diri” yang baik sehingga berani mewujudkan impiannya.
  • Belajar dan berani menghadapi berbagai situasi sosial yang beragam dan penuh dengan tantangan.
  • Belajar memandang dunia dengan perspektif yang benar. Jika mereka dibesarkan dalam suasana aman, maka hal itulah yang tertanam dalam pikiran bawah sadarnya, sehingga merekapun memandang dunia ini sebagai tempat yang aman dengan orang-orang yang beritikad baik. Sebaliknya jika dibesarkan dalam suasana penuh ancaman, merekapun memandang dunia sebagai tempat yang tidak aman, setiap orang adalah jahat dan harus curiga kepada setiap orang, sebagai akibatnya maka mereka akan menarik banyak hal-hal negatif masuk dalam hidupnya.

Setelah kita semua mengetahui betapa besar peran dan pentingnya suasana aman dan damai di rumah terhadap pengembangan anak dan pertumbuhan anak , kami mengajak segenap orangtua untuk mempraktekkan tips-tips diatas demi kebahagiaan dan kesusksesan masa depan anak-anak kita.

Kartu Kredit Anda Harus digunakan dengan bijak

Ada begitu banyak kartu kredit di luar sana, mana yang harus Anda pilih? Izinkan saya membagikan kisah pribadi tentang kartu kredit.

Saya sudah memiliki Visa Pelajar Bank of America sejak sekolah menengah, karena siapa pun yang masih muda dapat disetujui biasanya tanpa kredit. Ini kartu yang sangat sederhana …. Batas kredit $ 800, April rendah, tidak ada biaya tahunan, tidak ada imbalan tetapi mereka mengirimi Anda penggantian gratis jika Anda kehilangan mereka, yang berguna beberapa kali. Saya baru-baru ini mengakuisisi kartu Merrill +, dan telah membuka mata saya pada pentingnya kredit. Sejak Anda masih muda, Anda mungkin pernah mendengar, “tingkatkan skor kredit Anda!” Dan tentu saja tidak ada kata terlambat untuk memulai. Saya pikir saya cukup ketinggalan dalam perlombaan membangun kredit karena saya sudah menggunakan kartu ini sebagai kartu pertama dan satu-satunya, tetapi diskusi baru-baru ini dengan salah satu teman saya mengungkapkan bahwa dia menggunakan CC orangtuanya dan tidak memiliki kartu sendiri ! Saya segera menyarankannya untuk mengajukan Visa Pelajar pribadinya sendiri.

Kartu apa yang harus Anda dapatkan? Saya tidak akan menganggap diri saya seorang guru keuangan ketika datang ke kartu kredit, tapi saya jelas menyarankan belanja yang disesuaikan dengan kebutuhan Anda. Cari satu dengan cash back yang baik. Untuk menyebutkan beberapa di atas kepala saya, Citi Diamonds lebih disukai memberi Anda 2% pada pembelian kebutuhan penting seperti gas dan makanan, sementara 1% untuk orang lain. Berhati-hatilah untuk orang-orang yang menawarkan tanda awal bonus menarik, tetapi menawarkan pengembalian yang buruk setelah itu! Beberapa kartu memikat Anda dengan memberi Anda ratusan dolar untuk dibelanjakan, tetapi memiliki semacam biaya tahunan. Saya cenderung menghindar dari mereka dengan biaya tahunan karena ada banyak kartu tanpa mereka.

Berhati-hati dalam berbelanja dengan kartu kredit

Rincian Skor Kredit Anda: Jika Anda tidak tahu skor kredit Anda, Anda harus mengunjungi situs terpercaya Senggol4d untuk mendapatkan cek gratis. Saya tidak mencoba mempromosikannya, tetapi pemerintah mengamanatkan bahwa konsumen mendapatkan setidaknya 1 * cek kredit gratis * dari setiap serikat kredit utama (Transunion, Equifax, dan Experian). Semakin tinggi nilainya semakin bagus. Nilai kredit pribadi saya adalah 734 dari Transunion … ‘bagus’, tetapi bisa lebih baik.

Bobot kartu kredit: Bagian ini sangat penting untuk skor kredit Anda. Jangan mengacau di sini atau Anda berpotensi memiliki masalah dalam mencoba mendapatkan pinjaman.

Utilisasi Kartu Kredit Terbuka (tinggi)

pada dasarnya membagi utang kartu kredit terbuka Anda dengan batas kartu kredit Anda. Semakin rendah semakin baik, jelas karena Anda memiliki risiko lebih rendah untuk melunasi utang Anda dan menumpuk utang.

Persentase pembayaran Tepat Waktu (tinggi)

Cukup jelas: Bayar tagihan Anda tepat waktu! Jika Anda tidak melakukannya, itu tanda bahaya besar bagi para kreditor yang mempertanyakan kemampuan Anda untuk membayar tagihan. Membayar minimum, meskipun tidak baik, masih dianggap sebagai pembayaran tepat waktu.

Garis Usia rata-rata Kredit (med):

Yang ini sedikit rumit … Semakin lama Anda memiliki kartu kredit, semakin baik nilainya. Namun, tidak disarankan untuk membatalkan kartu pertama Anda, karena setelah 8 tahun sejarah kartu Anda akan hilang, yang menyebabkan penurunan, secara tiba-tiba, sering terjadi penurunan dalam sejarah kredit.

Total Akun (rendah):

Ini hanyalah ukuran lain bagi kreditor yang memungkinkan mereka melihat kelayakan kredit Anda. Umumnya memiliki lebih banyak berarti bahwa Anda telah membuktikan kreditor bahwa Anda dapat dipercaya.

Pertanyaan-pertanyaan Kredit Keras (rendah):

MEMERIKSA SKOR KREDIT ANDA SENDIRI TIDAK merusak skor kredit Anda! Itu disebut pertanyaan SOFT. Ketika bank dan kreditor memeriksa skor Anda karena Anda meminta kartu kredit atau pinjaman baru, pertanyaan sulit ditambahkan ke skor Anda. Cobalah untuk tidak menerapkan terlalu banyak kartu kredit yang tidak perlu.

Semoga berhasil dalam balapan skor di mana skor yang baik akan memungkinkan Anda akses ke tingkat hipotek rendah dan pinjaman.

Melatih Anak Menhadapi Bullying teman-teman

Adakah anak-anak kita yang bebas dari bullying hari ini? Adakah tempat di mana lingkungan sama sekali bersih dari tindakan bullying? Adakah anak-anak kita yang sama sekali tidak pernah mengalami SALAH SATU perlakuan berikut: dituduh, difitnah, sering disalahkan, terlalu banyak dikritik dengan tajam dan menyakitkan, dijuluki dengan julkan negatif (labelling), dilecehkan, dibentak, dihina? Atau yang berbentuk fisik: dipukul, dijewer, dicubit, ditinju, didorong, ditendang, ditengkas, dijitak, didorong kepala, ditarik alis mata, dilempar penghapus, kapur, sepatu, sapu dan buku, dijemur di panas atau hujan, disuruh lari, push up, merangkak, berdiri di depan kelas, dikompas/memalak, diplonco/diospek?

Bullying merupakan salah satu tindak kekerasan yang dapat terjadi kepada siapa pun dan di mana pun, ini dapat terjadi dari atasan kepada bawahan, antara karyawan dengan karyawan, dari kepala sekolah kepada guru, antarguru, guru kepada murid dan antara murid dengan murid.

Jika terjadi pada murid di sekolah ini makin parah, sebab ternyata jika Anda komunikasi dengan guru-guru di sekolah, banyak dari mereka tidak menyadari hal ini terjadi di luar kelas pembelajaran mereka. Akibat kurang menyadari dampak negatif tersebut, para guru tidak secara efektif mengatasi masalah bullying di sekolah. Bahkan, ada kalanya para guru juga melakukan bullying pada siswa dalam rangka mendidik dan menegakkan disiplin (disiplin salah kaprah).

Tanyalah pada laki-laki dewasa hari ini saat mereka sekolah di waktu kecil dulu, sebagaimana saya mengalaminya, sebagian besar kita waktu sekolah dulu, apalagi yang laki-laki, sepertinya pernah mengalami salah satu tindakan berikut ini entah dari sesama murid atau guru: dipukul, dijewer, dicubit, ditinju, didorong, ditendang, ditengkas, dijitak, didorong kepala, ditarik alis mata, dilempar penghapus, kapur, sepatu, sapu dan buku, dijemur di panas atau hujan, disuruh lari, push up, merangkak, berdiri di depan kelas, dikompas/memalak, diplonco/diospek.

Atau yang berbentuk psikologis kalimat yang mengintimidasi, mempermalukan atau secara verbal berupa: dituduh, difitnah, sering disalahkan, terlalu banyak dikritik dengan tajam dan menyakitkan, dijuluki dengan julkan negatif (labelling), dilecehkan, dibentak, dihina.

Celakannya, sebagian besar guru hampir tidak tahu kejadian ini. Padahal apa yang terjadi di luar kelas pembelajaran ini bisa berdampak besar buat perkembangan mental seorang anak dan bisa merusak semua hal yang sudah diajarkan di dalam kelas.

Akibat orang dewasa (guru) juga mendiamkan, pada sesama teman-teman murid pun (peer group) menjadi cenderung demikian. Dalam setiap kejadian bullying biasanya ada orang yang menjadi korban, pelaku dan ‘bystander’ (siswa lain yang melihat atau berada di lokasi pada saat bullying terjadi). Bystander adalah orang yang mungkin memberi semangat kepada pelaku bullying, berada di sekitar tempat kejadian dan hanya menonton, atau pergi menjauh dari tempat kejadian. Hal ini tidak menolong si korban, atau menghentikan terjadinya peristiwa tersebut.

Apakah solusinya berarti kita harus ‘melarikan diri” dari itu semua? Pindah sekolah, pesantren, dan lain-lain? Pertanyaannya, apakah dijamin bahwa di pesantren dan di sekolah lain anak-anak juga tidak akan mendapatkan hal yang sama? Seperti aduan seorang ibu berikut ini:

“Abah, salam silaturahim. Saya pernah ikut PSPA yang di gedung Pos jl. Banda. Ingin share nih, saya punya 3 anak. yang pertama lak-laki 9 tahun kelas 3, kedua perempuan usia 6 dan ketiga laki-laki 2,5 thn.

Yang cukup menjadi bahan pembelajaran saya adalah dalam menghadapi anak sulung saya. Saat masuk kelas 1 SD usianya 7 tahun dengan asumsi biar lebih matang. Alhamdulillah di kelas 1 secara akademik dia masuk 3 besar. mulai kelas 2 terlihat dalam interaksi dengan teman-temannya sering terjadi konflik.

Fisik anak saya termasuk kecil dibandingkan dengan teman-teman seusianya. Mulailah anak saya menyatakan ketidakbetahannya di sekolah. Saat anak cerita pada saya apa yang dialaminya di sekolah, tentu saja saya sebagai ibunya mendengarkan keluhannya. Tapi saya coba konfirmasi dengan gurunya, hal itu berlanjut sampai dia sekarang kelas 3. Saat saya konfrm ke gurunya, terkadang gurunya gak tahu apa yang terjadi, karena boleh jadi kejadiannya saat tidak dalam pengawasan gurunya.

Kekhawatiran saya anak saya jadi korban bullying, terus terang saya awalnya mengajarkan pada anak saya kalau bertemu dengan temannya yang suka ganggu, tinggalkan jangan dilayani atau lapor ke guru. Karena kalau dilawan anak saya secara fisik lebih kecil. Kondisi anak saya saat ini merasa senantiasa jadi tertuduh. Apapun kejadiannya, dia yang senantiasa disalahkan termasuk dari gurunya. Mohon bantuan saran dari Abah, apa yang harus saya lakukan. Rencananya saya sudah sepakat dengan suami untuk memindahkan sekolah ke salah satu pesantren di Ciamis, dan anaknya juga mau. Apakah ini keputusan yang tepat?”

Rasanya, jika definsi bullying seperti di atas, sepertinya tidak ada satu tempat pun di dunia ini yang bebas sama sekali dari potensi bullying. Hatta di pesantren sekali pun, dalam skala tertentu, saya yang juga pernah mengalami pesantren, sedikit banyak juga mengalaminya. Meski tentu saja ini hanya generalisasi.

Karena tidak ada jaminan tadi, sebagian orangtua akhirnya saking tidak percayanya dengan sistem pendidikan formal dan nonformal seperti itu memutuskan untuk menyekolahkan anaknya dengan pendidikan informal di rumah. Apa yang kerennya disebut homeschooling. Ada banyak motif mengapa orangtua membuat homeschooling tentunya. Tapi ditengarai ini juga menjadi salah satu motif saja: kekhawatiran bullying yang tidak bisa dideteksi oleh guru dan pengelola sekolah yang berdampak negatif terhadap mental anak, selain tentu karena ketidakpuasan terhadap sistem pembelajaran di sekolah formal dan nonformal tadi. Ya kalau pun anak tidak mendapatkan bullying dari lingkungan belajar formal karena memutuskan homeschooling, tidak ada jaminan pula ia tidak mendapatkan bullying saat bersosialisasi dengan teman sepermainan.

Karena itu cara terbaik adalah bukan menghindari bullying atau lari dari kenyataan itu semua. Tetapi, bantu anak untuk berlatih menghadapi itu semua. Suka atau tidak suka. Tahapannya dapat dilakukan sebagai berikut:

Pertama, BICARAKAN, mau pindah sekolah, ke pesantren atau tetap di sekolah yang sama, orangtua wajib mengajarkan anak untuk menyampaikan pendapat atau opini pada orang lain dengan cara yang tepat. Hal ini termasuk kemampuan untuk “mengatakan” TIDAK atas tekanan-tekanan yang dia alami saat dia merasa dirugikan dan hanya bukan dengan cara kekerasan.

Latih anak kita untuk menyatakan ketidaksukaan, ketidaksetujuan dan penolakan melalui ucapan. “Jika teman kamu hendak menyakiti kamu ajak teman kamu bicara bahwa itu bisa membuat kamu sakit. Seperti ‘nggak boleh begitu, itu membuat aku sakit’ atau ‘berhenti, itu sakit!’ ” Atau kalimat lain semacam ini yang intinya mengungkapkan apa yang dirasakannya, apa yang dipikirkannya, apa yang ditolaknya. Kemampuan ini dapat dimulai dalam kehidupan keseharian kita sebenarnya, dalam hal-hal yang sederhana, misalnya saat anak-anak kita ‘berantem’ dengan kakak atau adiknya. Kemampuan ini dalam bahasa kerennya sering disebut kemampuan asertif.

Anak-anak lain terus menyakiti anak kita salah satu sebabnya karena yang disakiti terus diam dan tidak mengungkapkan apa yang dirasakannya. Saat mainan hendak diambil paksa temannya, latih anak kita untuk mengatakan “tidak”. Ini harus terus dilakukan secara terus menerus, tidak sekali dua kali.

Kedua, jika bullying itu hanya berupa intimidasi verbal, orangtua atau sekolah rasanya juga akan kesulitan untuk menindaknya karna ‘alat bukti’ memang hampir tak bisa terlihat secara fisik. Karena itu untuk mengatasi bullying verbal tersebut anak-anak juga bisa dilatih kemampuan beladiri verbal dan kemampuan mengendalikan pikiran. Kemampuan ini semacam membalikkan serangan kalimat negatif menjadi dimaknai lebih positif oleh anak-anak.

Tentu saja ini tidak mudah, sebab anak-anak abstraksi berpikirnya sangat berbeda dengan orang dewasa. Tetapi bukan berarti tidak mungkin anak-anak dapat memaknai kalimat negatif menjadi kalimat positif dengan latihan yang dimbimbing orangtua. Caranya? Orangtua dapat mengumpulkan kosakata-kosakata bullying tersebut dari curhat anak saat mereka sedih, kesal setelah diserang secara verbal oleh temannya, lalu bantu anak meng-counternya dengan kalimat-kalimat lain lebih positif.

Contoh beladiri verbal dan kemampuan mengendalikan pikiran itu seperti berikut:

B: Pelaku Bullying

A: Anak Korban bullying

B : Hei gendut…

A: Hai juga.. kurus.

B: Badanmu kayak gajah. Gede, hahaha

A: Iya tandanya aku tidak kekurangan makan, berkecukupan, alhamdulillah, hahaha

B: ih.. pede banget.. nggak tau malu!

A: ya dong pede.. aku kan punya banyak kelebihan

B: Iya, kelebihan berat badan! Hahaha

A: Daripada kekurangan gizi, kurus.. hahaha

B: Hey.. kamu anak baru di sini, jangan belagu.

A : Itu pendapatmu..

B : Dasar jelek

white; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px; margin-bottom: 6px; padding: 0px;”> A: Menurut orangtuaku, aku cakep

B: Iya menurut kami, kamu kayak monyet, hahah

A: Ah kita kan boleh berbeda pendapat

B: Botak barakataakk.. hahay ada kelereng leewat!

A: kelereng manis.. hhaha

B: ih malu-maluin

A: Itu sih menurut kamu

B: emang bener kan?

A: itu sih menurut kamu

B: congek lu!

A: itu sih menurut kamu

B: hey bodoh banget sih

A: Itu sih menurut kamu

(sesuatu yang ditanggapi berulang-ulang dengan tenang dapat membuat pelaku bullying akan bosan dengan sendirinya dan malah bukan korbany bullying yang kesal, tapi si pelakunya sendiri. Jika mengarah ke tindakan fisik, lihat tahapan nomor empat)

Tapi ini sekadar contoh, Anda bisa mengkreasikannya dalam bentuk kosakata lain. Wah jadi orangtua harus kreatif dong? Lah kata siapa jadi orangtua tidak harus kreatif? Itu ujiannya punya anak kan, yaitu mau tidak kita menyediakan waktu, bersusah-susah mikir berkreasi menghadapi perilaku-perilaku atau kejadian-kejadian pada anak kita yang terus berubah? Tapi tenang, kabar gembiranya, semua orangtua sudah diberikan potensi kreatifitas kok. Insya Allah kita akan menemukannya sendiri kalau giat berlatih.

Ketiga, sedapat mungkin anak dilatih untuk turun tangan menyelesaikan masalah, bukan orangtua yang menyelesaikan masalah anak. Jika terus mendapatkan intimidasi berulang, lalu kemudian yang mengintimidasi sudah sering diajak bicara tapi tidak juga menghentikkan aksi bullyingnya, ajarkan anak untuk LAWAN!

Melawan artinya kita tidak diam saat orang lain menyakiti kita. Melawan artinya anak kita harus dilatih untuk menegakkan kebenaran. Melawan artinya kita membela diri sebelum orang lain menyakiti kita. Melawan tidak berarti harus melukai orang lain. “Jika adik kamu mau mukul, kamu pegang tangan adik, jangan biarkan dia memukul kamu” atau “Jika teman kamu hendak mendorong kamu, kamu harus menghindar atau jika dia terus memburu kamu, kamu boleh mendorong dia duluan. Jangan pernah biarkan teman kamu untuk melukai kamu.”

Karena itu, jika memang lingkungan anak di sekolah rentan dengan tindakan-tindakan seperti itu, demi keselamatan anak, anak juga boleh dibekali dengan kemampuan-kemampuan belda diri dan lain-lain. Ikut les karate, silat, taekwondo, dan lain-lain. Bukan untuk kekerasan dibalas kekerasan tetapi sekadar untuk mendapat kemampuan bekal membela diri dalam kedaan darurat.

Tubuh lebih kecil seharusnya bukan penghalang. Terlalu sering kita melihat anak-anak kecil juga mengintimidasi anak-anak yang tubuhnya lebih besar, lebih gembrot, lebih gendut dan lain-lain. Apa yang membedakan? Kekuatan mental anak itu sendiri. Karena itu kuatkan mental anak senantiasa. Salah satu jalannya dengan meng-updgrade sisi kepercayaan diri anak dari segi-segi bela diri tadi atau dari keunggulan anak yang dia miliki dari yang lain misalnya tentang sepakbolanya, prestasi akademiknya, dan lain-lain.

Keempat, jika anak tak mampu melawan, latih anak untuk bertindak LAPORKAN kepada pihak-pihak yang berwenang, guru, orangtua, kepala sekolah dan lain-lain. Jika memang ini pernah terjadi, apalagi sering, orangtua dapat membuat aduan yang serius kepada pengelola sekolah, terutama leader di sekolah yaitu kepala sekolah dan bukan hanya pada gurunya. Tunjukkan fakta-faktanya atau perubahan negatif pada perilaku anak akibat bullying terjadi. Apalagi jika menyangkut bullying fisik. Jika ‘hanya’ bullying verbal dan yang tidak berbentuk fisik, kita akan sulit membuat aduan ini. Tapi jika sudah berbentuk fisik, orangtua boleh tidak tinggal diam dan harus proaktif untuk membantu sekolah mengatasi hal ini.

Sekolah harus dibuat ‘aware’ tentang hal ini dan bukan malah menganggap biasa-biasa saja kejadian seperti ini. Sekali lagi ini bisa berdampat negatif yang sangat hebat pada diri anak itu sendiri. Jika sekolah tidak menangani ini dengan serius barulah kemudian kita boleh melangkah kepada tindakan memindahkan anak sekolah.

Kelima, Jika anak belum mampu mengatasi dengan banyak sebab selain karena tubuhnya lebih kecil dan lain-lain dan sekolah atau pihak yang berwenang mendapatkan laporan, ternyata belum juga menindak anak-anak pelaku bullying, bantu anak mengatasi itu dengan cara kita ikut turun tangan. Tapi turun tangan bukanlah dengan membentak, memarahi anak yang sudah melakukan bullying pada anak.

Munkgin ini tidak ideal, karena ada intervensi dari orang dewasa, bukan anak yang menyelesaikannya. Tetapi, ini jauh lebih baik daripada terus-terusan mendiamkan anak kita jadi korban bullying bukan?

Lalu bagaimana caranya? Ajak anak-anak yang sudah melakukan itu bekerjasama, dekati mereka. Saya yakin anak-anak itu yang melakukan bullying ini sebenarnya sejatinya bukanlah penjahat betulan atau bukan pula preman beneran. Mereka hanya ‘tersesat’ perilakunya.

Mengapa ada anak-anak yang melakukan bullying? Biasanya itu karena ada masalah dengan perilaku mereka sendiri. Apalagi dikombinasikan dengan perlakuan negatif yang ia terima dari orangtuanya atau masalah yang ia dapatkan di keluarganya, klop deh! Motif lain yang sering ditemukan adalah bahwa pelaku bullying adalah pelaku yang biasanya memiliki kemampuan mempengaruhi anak lain yang baik (leadership) tapi mereka salah gunakan dengan melakukan bullying. Pelaku bullying semacam melakukan ujicoba atas kemampaun kepemimpinannya.

Saya tidak becanda, tapi insya Allah ini sangat efektif. Ajak anak-anak pelaku bullying bicara, ngobrol. Bukan untuk nuduh, menyalahkan atau dicerahami. Ajak main, undang ke rumah. Ajak nonton bareng film anak-anak (dengan seizin orangtuannya tentu). Buat kegiatan seru bersama dengan anak kita yang menjadi korban. Inti dari semua ini adalah untuk membangun kedekatan dengan mereka. Jika ‘preman’ sekolah ini bisa kita tundukkan, maka sebaliknya malah sangat produktif dia akan menjadi pelindung anak-anak pelaku korban bullying.

Buktikkan! Tentu tanpa harus terus-terusan anak-anak ini harus memberikan semacam ‘setoran’ terus-terusan pada pelaku. Pendekatan-pendekatan yang membuat pelaku bullying ini diperhatikan ini sangat jauh lebih dari cukup. Ini bisa menggantikan dahaga dia akan kasih sayang dan perhatian yang mungkin ia tidak dapatkan dari keluarganya. Seperti kita orang dewasa, jika kita sudah dekat dengan seseorang secara emosional, rasanya tidak enak untuk merugikan orang yang sudah dekat secara emosional dengan kita tadi. Apatah lagi anak-anak, yang secara fitrah sebetulnya mereka jauh dari rasa dendam, ingin melukai terus-terusan temannya dan lain-lain.

Jika lima tahapan ini belum juga berhasil atau jika memang situasi lingkungannya sudah pada tingkat rentan bullying yang sangat berat, maka saya setuju jika tindakan terakhir adalah ‘hijrah’ mencari tempat yang lebih baik. Apakah ke lingkungan baru, ke komplek tempat tinggal baru, atau sekolah baru, atau yang lain.

Yang jelas jika ke pesantren, berkaitan dengan anak usianya masih SD, Anda boleh tidak setuju dengan saya, saya termasuk yang tidak setuju anak SD sudah dipesantrenkan jauh dari orangtua. Kenapa? Anak-anak ini mungkin jadi hafal Qur’an banyak, ilmu agamanya hebat, tetapi siapa yang mau mendengarkan curahan hatinya saat ia sedih, capek, lelah, marah? Apakah ustadz dan ustadzah siap dan memiliki waktu setiap hari untuk mendengarkan ini semua pada anaknya?

Anak-anak ini belum matang secara emosional maka dia masih membutuhkan “asupan gizi” emosi dari orangtuanya, yang tidak bisa digantikan oleh siapapun, kecuali ia benar-benar yatim piatu betulan. Rasulullah meski yatim piatu, tapi secara privat ada yang mendengar keluh kesahnya, mulai dari ibu susuan Halimah As-Sya’diyah,lalu ibu kandungnya ibunda aminah, ketika ibunya meninggal lalu kakeknya, ketika kakeknya meninggal lalu pamannya, lalu istrinya! Meski idealnya anak-anak SMA sudah dapat dikirimkan ke sekolah berasrama, sebenarnya anak SMP juga sudah lebih baik dibandingkan anak usia SD dikrimkan ke sekolah berasrama. Mengenai sekolah berasrama ini mudah-mudahan bisa saya bahas dalam tulisan yang lain. **